19
Nov
12

Anakku, Bebanmu Kini…

Saya akan awali tulisan ini dengan sedikit tebak-tebakan. Coba lihat soal di bawah ini dan tebak ini soal kelas berapa. Jawaban yang tertera adalah jawaban yang mendapat contreng “benar” oleh guru.

Nina berumur 10 tahun. Dito usianya 2 tahun lebih muda dari Nina. Ani umurnya 6 tahun lebih tua dari Ani. Berapa umur Ani?
“Manfaat ketertiban dalam kehidupan adalah: (a) tercipta keadilan (b) setia kawan (c) keadaan aman”.
“Apa yang dimaksud dengan suara?”
“Apa yang dimaksud dengan data diri?”
“Apa fungsi Kartu Keluarga? Di mana membuatnya?”
“Apa guna tangan?” Anak saya menjawab: untuk mengambil. Jawaban ini disalahkan, menurut gurunya jawaban yang benar adalah: untuk memegang. Mmm.. kalau memegang, mulut juga bisa utk memegang😀
“Sebutkan nilai yang terkandung dalam permainan Cici Putri”. Jawab: kepercayaan, melatih kesabaran, kreatif, mengenal nama hewan dan tumbuhan.
“We spell …. for letter R”. Jawab: AR
“My name is Deva. We spell?” Jawab: di-i-vi-ei
“Lengkapi pengelompokan berikut: (3+4)+2 = (4+2)+…. Jawab: 3
“Sembilan belas lambang bilangannya adalah…” Jawab: 19
“Di kelas ada 20 siswa perempuan dan 13 siswa laki-laki. Berapa selisih siswa perempuan dan laki-laki?” Jawab: 7

Jika Anda berpikir pelajaran di atas adalah untuk  “kelas 5 SD” atau “kelas 6 SD” atau bahkan “kelas 1 SMP” maka tebakan Anda meleset. Jawab: KELAS 2 SD !!

Akhir-akhir ini, saya agak intens menemani anak kami, namanya Fabian, yang baru masuk naik Kelas 2 SD belajar, karena belum lama berselang adalah musim ulangan dan saat blog ini ditulis baru saja ia menyelesaikan Mid Test. Di luar musim ulangan dan mid-test ini, kerap saya dan istri bergantian menemaninya menyelesaikan PR.

Setiap kali menemani Fabian belajar, selalu saja muncul rasa stres, cemas, gemas, heran, bingung bercampur aduk. Apa pasal? Kami merasa beban pelajaran yang harus diserap melampaui kemampuan anak seusianya. Melihat soal-soal di atas, jangankan anak kami, kamipun kerap dibuat bingung menjawabnya karena beberapa soal tidak tersedia jawabannya di buku tapi harus menggunakan logika. Anak kelas 2 diminta berpikir secara logis! Itu pertama.

Kedua, isi tasnya begitu berat. Istri saya pernah membelikan tas trolley, saking beratnya, itupun jebol😦 Saya sendiri kerap mencoba mengangkat tasnya, dan terkaget-kaget. Tas kantor saya yang berisi laptop+charger dlsb ++, tidak seberat ini!

Ketiga, setiap hari – mungkin juga ini Anda alami – selalu terjadi “morning chaos” setiap kali berangkat sekolah. Jam masuk sekolah pukul 06.30 memang menghebohkan. Setelah susah payah membangunkan dari kamar, anak saya terhuyung-huyung beranjak ke kamar mandi. Di kamar mandi, saya bantu membuka baju dan celananya, matanya seringkali masih terpejam😀 Karena kasihan, kadang saya minta dia duduk dan saya mandikan. Matanya terus terpejam haha…😀

Setelah mandi tentu berpakaian, sarapan, dsb. Pukul 6.15 saya dan Fabian berangkat menggunakan motor. Saya sekalian berangkat kerja, tentu. Sebenarnya saya pribadi senang saja mengantar ke sekolah, karena sepagi ini perjalanan ke kantor masih sangat lancar, kalau tidak bisa dibilang lengang.

Kembali ke sekolah anak kami, inilah saatnya puncak morning chaos. Riuh rendah suara orang tua yang menyuruh anaknya bergerak cepat, sampai si anak harus menyeret-nyeret tasnya, bahkan kadang si anak sendiri yang diseret-seret oleh orangtuanya supaya cepat masuk sekolah. Level chaos akan meningkat drastis manakala bel sekolah berbunyi, karena tidak lama setelah bel, gerbang sekolah akan ditutup. Selain diseret-seret, orangtua juga memberi bonus tambahan berupa omelan “Heh, ayo cepetan! Itu udah bel! Hadeeeeh males banget sih! Makanya kalau bangun yang cepet! Heh, cepeett, iihhh ?!#$%” Masya Allah…

Begitulah dinamika kami dengan Fabian ini. Saya dan istri berusaha untuk menikmati saja. Membangunkan, memandikan, mengantar ke sekolah adalah momen-momen terindah yang tidak akan terulang saat dia besar nanti. Hanya saja, saya dan istri merasa kasihan dengan beban yang harus ditanggung putra pertama kami ini, seakan melampaui usianya. Sebuah beban yang terlalu berat untuk ditaruh di pundak kecilnya😦

Mengenai beban pelajaran, masih segar di ingatan saya bahwa saat kelas 1 SD dulu, waktu di sekolah relatif menyenangkan. Masuk kelas sambil bernyanyi-nyanyi, belajar mengenal huruf, warna atau bentuk. Sekitar 1 -1,5 jam bel istirahat berbunyi. Kami mengeluarkan kotak makanan dan asyik mengosongkannya. Kadang bertukar makanan dengan kawan satu meja. Setelah makan, kami bernyanyi-nyanyi lagi dan tak lama kemudian waktu pulang tiba.

Menyenangkan? Ya. Melelahkan? Sama sekali tidak. Jam 9 kami sudah pulang. Anak kami sekarang? Pulang jam 13! Dengan segudang PR yang harus dikerjakan dan dikumpulkan esok hari tentunya.

Dan ‘hebat’nya lagi, saat ulangan pun masih ada PR! Duh Rabbi…

Saat musim ulangan, masuk sekolah diundur sedikit menjadi pukul 07.00. Bagi saya ini waktu yang sangat pas. Tidak ada ketergesa-gesaan. Tidak ada morning chaos baik di rumah maupun di sekolah. Semuanya berjalan normal, natural, tidak grasa grusu. Di rumah pun kami masih sempat berbincang dengan Fabian, kendati sebentar. Perbincangan ayah-ibu-anak yang isinya kami upayakan berkualitas, menanamkan nilai-nilai agama dan akhlak yang baik. Plus nasihat-nasihat yang akan memperkuat mentalnya kelak.

Saya berharap para pemegang kebijakan menimbang kembali mengenai waktu sekolah dan kurikulumnya. Biarkanlah anak berkembang sesuai dengan masanya, seimbang dengan perkembangan jiwanya. Tidak instan atau karbitan. Jika sejak kecil mereka terbiasa ada di dalam lingkungan yang penuh tekanan dan kompetisi, saya khawatir mereka akan kehilangan keceriaan masa kecil. Sehingga saat dewasa, mereka tumbuh menjadi pribadi yang tidak utuh.

Apa Anda mengalami hal yang sama? Well, Anda tidak sendirian🙂


2 Responses to “Anakku, Bebanmu Kini…”


  1. 1 cupanomiki
    16 March 2013 at 21:37

    Sesama ortu yg anaknya kelas 2 SD, saya sangat setuju kalau beban anak2 skrg sangatlah berat.. Dan hebatnya lagi itu ditambah dgn persaingan di kelas.*fiuhhhh*
    Anak skrg pintar2 dan nilai2 yg dulu dianggap bagus, skrg dianggap biasa2 saja..
    Semoga anak2 dan kita semua kuat ya..

  2. 8 April 2016 at 21:09

    my favorite picture is the one of you guys on the merry-go-round. Click https://twitter.com/moooker1


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: