29
Sep
10

Lebaran, Nanggok dan Budaya “Mengemis”

Membaca judul tulisan ini, Anda pasti bisa menebak apa yang akan saya bahas😀

Ya, hari raya Idul Fitri baru saja berlalu. Petasan yang, kendati dilarang, berdebum sejak sehari menjelang dan sehari setelah lebaran mulai mereda. Ada 1-2 dentuman terdengar.

Tradisi salam-salaman disertai permintaan maaf sudah menjadi menu wajib. Kok tradisi? Ya, karena Islam memang tidak mengajarkan secara tertulis untuk melakukan ritual sungkeman, kunjung-mengunjungi tetangga dan meminta maaf ‘hanya’ saat Idul Fitri ini. Hal-hal tadi boleh saja dilakukan kapanpun. Di Indonesia dan mungkin beberapa negara lain, momen lebaran memang dianggap paling tepat untuk menjalankan tradisi tersebut.

Bagi anak-anak, lebaran punya makna khusus dan lebih spesial dengan tradisi khas lainnya: NANGGOK! Nanggok adalah tradisi berbagi atau bersedekah khususnya bagi kalangan berpunya dan umumnya memang ditujukan untuk anak-anak. Orang-orang yang berkelebihan rezeki biasanya menyiapkan sejumlah uang, mulai dari Rp 1.000 hingga Rp 50.000 yang kemudian dibagi-bagikan kepada anak-anak yang datang berkunjung ke rumahnya, entah itu anak-anak tetangganya, anak dari kampung sebelah atau entah dari mana asalnya.

Saya sendiri mulai mengkritisi budaya nanggok ini belum terlalu lama. Apa pasal? Saya perhatikan, banyak anak-anak yang pada akhirnya memang “mempersiapkan” diri mereka untuk meminta-minta. Saat mereka meyambangi rumah-rumah tetangga, mereka sudah siap dengan tas kecil atau celana yang berkantong banyak. Kalau di zaman saya kecil, celana berkantong banyak digunakan untuk ‘menyatroni’ kue-kue lebaran atau permen😀

Jika hanya persiapan seperti di atas, mungkin masih bisa dimaklumi. Namanya juga anak-anak. Keresahan saya mulai timbul manakala menyambut anak-anak yang entah dari mana asalnya, dan bukan anak kecil lagi (mungkin seusia SMP ya..) ujug-ujug datang dan boro-boro mengucapkan “maaf lahir batin ya Pak/Bu”, mereka langsung saja menengadahkan tangannya seraya mengucap “lebarannya Pak/Bu, sedekah nanggokannya…”.

WTF?@#$%

Kalau sudah bertemu anak-anak seperti itu, biasanya saya beri saja masing-masing Rp 1000. Dan keresahan berikutnya muncul saat mendengarkan mereka nggerundel dan bahkan berkata “Yah…seceng doank nih, jangan ke sini…” Asli, mereka ngomong begitu😦

Keresahan lainnya dan ini adalah keresahan level tertinggi, adalah manakala saya melihat anak-anak kecil itu justru didorong oleh orangtuanya untuk nanggok, seraya berkata “Heh, ayo buruan ke Pak X noh, ngasihnya banyak! Kalau perlu abis dikasih, ntar rame-rame balik lagi, nggak hapal kok orangnya!”

Masya Allah… habis sudah toleransi saya. Budaya nanggok yang seharusnya milik anak-anak, kini sudah didomplengin oleh orangtua untuk memperoleh “uang lebih” saat lebaran.

“Wah, lebay loe, ya sekali setahun nggak apa-apa toh, itung-itung bagi rezeki.” Ini komentar seorang kawan yang mendengar curhatan saya tentang kejadian-kejadian di atas. Dia menyarankan saya untuk tidak terlalu memikirkan masalah ini. Merusak keceriaan lebaran, katanya😀

Pelit, bakhil, merki tentu saya hindari. Tapi dermawan tidak pada tempatnya bahkan salah sasaran, lebih saya hindari lagi. Ini sikap yang saya pegang sejak lama. Saya jarang memberi uang pada pengemis di perempatan jalan, apalagi jika melihat pengemisnya masih anak-anak atau remaja atau siapapun yang masih terlihat segar bugar. Hati kecil saya jelas kasihan, iba dan rasanya ingin memberi. Namun jika saya memberikan uang, sama saja saya ‘memelihara’ mental malas mereka. Kalaulah ingin memberi, saya akan memberi dalam bentuk lain, makanan/roti misalnya. Dan biasanya ini mereka tolak. Lah, padahal mereka minta-minta juga untuk beli makan toh😀

Dan bicara orang miskin dan pengemis, saya selalu teringat perkataan Rasulullah SAW dalam hadits berikut:

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. : Rasulullah Saw pernah bersabda, “Orang miskin bukanlah orang yang berkeliling kepada orang lain untuk meminta segenggam atau dua genggam kurma, tetapi orang miskin adalah orang yang tidak memiliki cukup (uang) untuk memenuhi kebutuhannya dan keadaannya itu tidak diketahui orang lain; orang lain mungkin memberinya sedekah, tetapi ia tidak mengemis kepada orang lain”.

Atau ini:

“Barang siapa meminta-minta sedang ia dalam keadaan berkecukupan, sungguh orang itu telah memperbanyak (untuk dirinya) bara api Jahannam”. Mereka bertanya : ‘Apakah (batasan) cukup sehingga (seseorang) tidak boleh meminta-minta? Beliau menjawab : “Yaitu sebatas (cukup untuk) makan pada siang dan malam hari”.  (HR. Abu Dawud)

Gimana, cukup gamblang kan?

Kembali pada persoalan nanggok, bagaimana sebaiknya kita menyikapi hal ini? Jika memang harus memberi sesuatu pada anak-anak, berilah dalam bentuk non-uang. Berikan saja makanan kecil, permen atau lainnya. Jika anak-anak tersebut menolak, katakan padanya dengan halus dan baik “Dek, di rumah Om/Tante, nanggoknya permen aja yah, atau kue-kue tuh…ambil aja sepuasnya”.

“Halah elu tuh ye, gak rame deh lebaran kalo semua orang kayak elu..” Kawan saya kembali berkomentar😀

Sebagai penutup, ada contoh yang bagus untuk menggambarkan bagaimana para pengemis sering menyalahgunakan rasa kasihan dan iba kita untuk kemudian menjadikan mengemis sebagai mata pencaharian utamanya, silakan baca artikel ini.


0 Responses to “Lebaran, Nanggok dan Budaya “Mengemis””



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: