22
Sep
10

Iring-iringan Pejabat Bikin Beban Hidup Semakin Berat…

Ya..ya..ya.. judul tulisan ini memang lebay alias berlebihanšŸ˜€ tapi enggak juga sih… halah ngeyel…

Walaupun tempat tinggal saya relatif dekat dengan kantor, saya sangat suka jika berangkat sangat pagi. Jalanan macet? Ini bukan alasan, tapi menjadi sarapan wajib warga Jakarta atau kaum urban yang mencari sesuap nasi atau sepiring berlian di ibukota. Macet bukan lagi pilihan, tapi keniscayaan. Mau tidak mau pasti bertemu.

Apa pasal yang membuat saya berangkat sepagi itu? Alasan utama saya adalah: menghindari iring-iringan PEJABAT! Ya, pejabat, orang yang digaji dengan pajak kita. Orang yang (seharusnya) bekerja untuk kita: rakyat. Rakyat yang menurut banyak pihak, seharusnya menjadi raja di negerinya. Ah kok jadi ngalor ngidul maju mundur..

Lanjut Gan..

Iringan PejabatEntah kenapa, jika saya berangkat dari rumah sekitar pukul 7 pagi atau lebih sedikit, hampir selalu bertemu dengan iring-iringan pejabat. Baik pejabat “beneran” yang plat nomor kendaraannya spesial, atau pejabat “jadi-jadian” yang plat nomornya biasa, tapi iring-iringannya panjang luar biasa. Disebut iringan pejabat karena di depan dan belakang ada Patwal, plus jeep yang sirine nya meraung-raung dan jalannya sradak-sruduk.

Namanya juga pejabat bro, tugasnya kan banyak, kalau telat bisa berabe! Ini komentar salah seorang teman. Apakah pejabat tersebut (beneran atau jadi-jadian) memang sedemikian penting tugasnya sehingga harus dibukakan jalan seperti itu?

Seperti pembuka tulisan ini, kemacetan adalah menu wajib di Jakarta, lha kenapa tidak berhitung dengan itu? Rumah di Cibubur, kantor di Medan Merdeka, misalnya. Jika memang harus tiba di kantor jam 7, silakan mengira-ngira waktu yang pas. Berangkat jam 5? Atau sebelum subuh? Shalat Subuh di masjid kantor, misalnya (kalau ada).

Kalau mau ditelaah, banyak untungnya jika berangkat jauh lebih awal. Selain bisa menghindari kemacetan, Bapak Pejabat bisa mengamati banyak hal. Bagaimana warga memulai kehidupan di pagi hari, ini cukup mengasyikkan. Para pedagang yang bersiap menggelar dagangannya, para kuli bangunan yang masih terlelap dalam lelahnya kendati lingkungan sekitarnya mulai hiruk pikuk, penyapu jalan, tukang ojek yang menunggu pelanggan setianya berbelanja di pasar, loper koran yang melempar koran ke rumah pelanggannya, banyak lagi.

Semua hal di atas lebih bisa dinikmati karena di pagi hari, pikiran relatif masih tenang, masih rileks. Ditambah jalanan yang belum padat membuat hati lebih riang. Bapak Pejabat bisa memperoleh banyak informasi, bahwa beragam cara dilakukan rakyat untuk survive menjalani hari yang makin hari makin sulit. Siapa tahu dari pengamatan ini muncul kebijakan publik yang people-friendly, bersahabat dengan rakyat.

Setiba di kantor, Bapak Pejabat masih punya waktu untuk berbincang sejenak dengan Pak Satpam, Pak Office Boy dan lainnya. Bagaimana keluarga mereka, sekolah anak-anak…

Apakah tidak ada hikmah apapun dalam kemacetan? Ada, dan tak kalah banyak.

Seandainya saja memilih untuk ikut ber macet-ria, Bapak Pejabat bisa melihat betapa makin melelahkannya berkendara di Jakarta. Waktu tempuh makin lama untuk jarak yang sama. Bahan bakar makin boros bikin dompet makin mbledos. Bapak Pejabat bisa melihat sendiri, kenapa motor jumlahnya makin tak terkendali. Tak lain tak bukan, ini salah satu cara menyiasati jalanan yang makin tak bersahabat. Jika naik motor, waktu tempuh bisa diprediksi. Jika naik kendaraan umum, hanya ada satu kepastian: Tak bisa diprediksi. Tak bisa diprediksi apakah bisa sampai rumah dalam 1 atau 2 jam. Apakah dompet masih ada di tempatnya saat turun nanti. Apakah betis akan membesar karena menahan beban badan selama di perjalanan. Belum lagi ada seniman yang membawakan puisi “Aku baru keluar dari penjara..”. Plus bonus mantap: dipindahkan ke bis lain yang tak kalah penuhnya.

Seru, memang.

Harapannya, dengan semua realita di atas, Bapak Pejabat bisa merasakan beban rakyat yang sesungguhnya. Betapa serunya menghabiskan umur di jalanan – sehingga muncul istilah “Tua di Jalan”. Bapak Pejabat bisa melihat sendiri bagaimana efek kebijakan publik yang ditandatanganinya. Siapa tahu muncul ide brilian untuk melahirkan moda transportasi yang diterima oleh semua.

Dari bermacet ria, semoga saja muncul empati. Atau jangan-jangan malah “Siakek! Besok gua mau pakai Patwal aja!”

Jadi kalau akhir-akhir ini muncul wacana untuk meng-helikopter-kan para pejabat, atau beberapa saudara kami berkeluh kesah soal pengawalan Bapak Pejabat, mohon dimaklumi Pak. Hidup kami sudah berat. Bukan hanya ban kendaraan kami yang botak lebih cepat, kepala kami juga!

Foto diambil dari SINI.


0 Responses to “Iring-iringan Pejabat Bikin Beban Hidup Semakin Berat…”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: