05
Jul
08

Si Budi Kecil

Saat sedang menjahit dialog demi dialog untuk operet sebuah TK Islam Terpadu, tibalah adegan murid-murid sekolah berkunjung ke sebuah rumah singgah, yang dihuni oleh anak-anak jalanan (pemulung, penjual koran, dsb).

Salah satu adegan menggambarkan seorang anak jalanan yang menceritakan kisah hidupnya, mulai dari ketiadaan biaya untuk sekolah hingga akhirnya harus membanting tulang berjualan koran di jalanan. Adegan ini diiringi oleh lagu Iwan Fals yang berjudul “Sore Tugu Pancoran”. Ini liriknya:

Si Budi kecil kuyup menggigil
Menahan dingin tanpa jas hujan
Di simpang jalan tugu pancoran
Tunggu pembeli jajakan koran

Menjelang maghrib hujan tak reda
Si Budi murung menghitung laba
Surat kabar sore dijual malam
Selepas isya melangkah pulang

Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu
Demi satu impian yang kerap ganggu tidurmu
Anak sekecil itu sempat nikmati waktu
Dipaksa pecahkan karang lemah jarimu terkepang

Cepat langkah waktu pagi menunggu
Si Budi sibuk siapkan buku
Tugas dari sekolah selesai setengah
Sanggupkah si Budi diam di dua sisi

Kendati sudah sering mendengar lagu ini, saya tetap saja tertegun. Merenung. Terdiam. Lirik lagu ini begitu dalam. Begitu menyentuh. Dan yang paling penting, begitu nyata. Akhirnya, saya merasa seperti tertampar.

Lagu ini terdapat dalam album Iwan Fals bertajuk sama, “Sore Tugu Pancoran” yang dirilis tahun 1985. Dan tulisan ini saya buat tahun 2008. Apa yang disuarakan oleh Iwan Fals 23 tahun lalu, ternyata masih sangat relevan dan masih terjadi hingga detik ini. Dan tempatnya bukan hanya di Pancoran, tapi di mana saja. Dan bedanya, kini bukan hanya si Budi kecil yang ada di sana. Tapi juga si Budi (yang sudah) dewasa, ayahnya Budi, ibunya Budi, adiknya Budi, kakaknya Budi, dan mungkin saja tetangganya Budi.

TK Islam terpadu ini bernaung di bawah Yayasan Fajar Islam, sebuah Yayasan penyantun kaum dhu’afa selama lebih dari 10 tahun. Kaum dhu’afa di sini termasuk si Budi kecil-si Budi kecil yang kami biayai pendidikannya. Makin hari, jumlah mereka semakin banyak. Sumbangan dari donatur yang sebenarnya juga makin membesar, tak sanggup mengimbangi laju pertambahan “para Budi kecil” yang memohon bantuan pendidikan.

Saya miris melihat begitu banyak anak-anak tidak mendapatkan pendidikan yang seharusnya sudah menjadi hak mereka karena kendala klasik menghadang, yaitu biaya. Uang bulanan/SPP mungkin gratis, tapi bagaimana dengan buku? Seragam? Dan biaya-biaya lain yang seringkali mendadak? Sangat logis jika bagi mereka yang sekedar untuk makan saja susah, bersekolah adalah sebuah kemewahan yang luar biasa. Dan sangat manusiawi jika sang orangtua meminta anaknya untuk langsung berkarya nyata saja bagi keluarga. Mencari uang.


0 Responses to “Si Budi Kecil”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: