01
Jul
08

Mencampur suara a la studio rekaman profesional dengan Audacity, asyik!

Sekitar satu minggu yang lalu, saya mendapat amanat melatih operet untuk para santri TKA/TPA. Bukan pertama kali memang, karena tahun lalu pun saya mendapat amanat serupa. Operet di sini memakai lipsync, jadi seluruh dialog operet sudah direkam dan diolah terlebih dahulu di studio, lengkap dengan efek suara untuk mendukung dramatisasi. Berikutnya, para pemain tinggal bergaya saja di panggung, mengikuti adegan demi adegan yang sudah direkam sebelumnya.

Proses nya sederhana. Pertama, masing-masing pemain merekam seluruh dialog yang akan mereka perankan dalam operet ini. Jadi masing-masing tokoh/pemain memiliki jadwalnya sendiri-sendiri untuk merekam suaranya. Untuk lebih jelasnya, silakan lihat dialog dalam naskah operet berikut ini:

Tokoh A : “Hey, mau ke mana kamu!”
Tokoh B : “Mau ke situ.”
Tokoh A : “Ke situ ke mana?”
Tokoh C : “Ah mau tau saja deh kamu!”
Tokoh B : “Mau ke warung situ, bos”
Tokoh A : “Oooh, bilang dong. Titip tempe goreng ya.”
Tokoh B : “Beres bos. Duitnya mana?”

Perekaman dialog di atas tidak dilakukan secara sekaligus, tapi direkam per-tokoh. Untuk tokoh A, ia merekam seluruh dialognya dalam satu sesi rekaman. Berikutnya, tokoh B dan kemudian tokoh C.

Setelah seluruh dialog dari masing-masing tokoh telah terekam, tugas saya berikutnya adalah memotong-motong dialog dari masing-masing pemain sesuai dengan skenario.

Untuk keperluan merekam dan memotong ini, sebelumnya saya menggunakan Nero WaveEditor.

Lalu, ini bagian yang sangat menyenangkan, adalah menggabung seluruh dialog dan menambah berbagai efek suara pendukung. Proses ini disebut multi-track recording. Dalam perekaman multitrack, kita bisa mencampur-campur beberapa suara dan mengatur timing dan posisi dari masing-masing suara. Misalnya suara ayam dicampurkan dengan suara burung dan sapi, sehingga tercipta suasana di peternakan. Selain itu, kita bisa mengatur suara ayam muncul hanya di channel sebelah kiri, sedangkan suara sapi keluar di channel sebelah kanan. Sedangkan suara burung keluar di tengah-tengah (kanan dan kiri). Dalam perekaman single-track, hal ini tidak bisa dilakukan. Banyak suara yang bisa dimasukkan, namun mereka tidak bisa dicampurkan dan hanya bisa dimainkan secara bergiliran.

Seperti apa hasil perekaman multi-track? Anda masih ingat drama radio? Atau kaset dongeng dari Sanggar Cerita? Kurang lebih seperti itulah hasil akhirnya.

Untuk menggabungkan suara-suara tersebut, sebelumnya saya menggunakan aplikasi perekaman multi-track bernama Nero SoundTrax. Pengalaman sebelumnya membuat saya agak takut dan trauma menggunakan program ini, karena sangat buggy alias banyak “aneh-aneh” nya. Yang paling menakutkan adalah seringnya crash tanpa permisi (lagipula, mana ada crash permisi dulu). Seringkali saya sudah bagus-bagus menggabung seluruh track, tiba-tiba aplikasi ini berhenti bekerja, dan mau tidak mau harus ditutup. Bablas sudah hasil karya tadi tadi. Lemes rasanya.

Karena ke-horor-annya itulah, saya berusaha untuk mencari alternatif pengganti. Akhirnya, saya jadi teringat dengan salah satu aplikasi yang konon katanya sepadan bahkan lebih baik dari Nero SoundTrax. Namanya Audacity.  Seperti biasa, yang pertama kali saya kunjungi adalah halaman antarmukanya alias sekrinsyut. Sungguh girang saya, karena ini dia yang saya cari. Fungsi-fungsi dasarnya mirip bahkan bisa dibilang sama dengan Nero SoundTrax. Bukan hanya itu, Audacity adalah aplikasi gratis dan open source. Tersedia untuk platform Windows, Linux/Unix dan Mac. Komplit, alhamdulillah!

Setelah mengunduh versi 1.2 sebagai versi stabil -  saat saya menulis artikel ini, Audacity sudah merilis versi 1.3 beta – saya langsung saja test drive. Dibandingkan dengan SoundTrax, tampilan Audacity memang lebih sederhana dan less-cosmetics. Saya butuh waktu beberapa lama untuk beradaptasi sebelum akhirnya bisa berinteraksi dengan penuh kepercayaan diri. Halaah, bahasanya… :P

Untuk proses perekaman, tidak ada masalah dan terasa sama saja dengan operasional SoundTrax.

Tampilan Audacity dan multi-track nya

Dari sekrinsyut di atas, di sebelah kiri ada Channel 1 dan Channel 2. Terlihat bahwa Channel 1 dimainkan terlebih dahulu, beberapa detik kemudian disusul Channel 2. Masing-masing track bisa dibesarkan atau dikecilkan volumenya. Atau hanya dibunyikan di speaker kiri, atau kanan. Mau ditingkatkan volumenya juga bisa.

Oke, saya mulai mengerjakan pemrosesan adegan-adegan operet. Track demi track saya gabungkan. Ada yang dikecilkan, ada yang dibesarkan. Diberi efek ini, efek itu. Suara narator diberi echo alias gema. Suara beberapa pemain yang berdesis dibersihkan dengan fitur Noise Removal. Jadi sunyi senyap! Asik! benar-benar lengkap! Fitur yang saya butuhkan tersedia semua!

Setelah beberapa lama menggunakan Audacity, saya harus mengakui, saya jatuh cinta dengannya. Dari sisi  penampilan memang tidak se’cantik’ SoundTrax, tapi secara fungsi, Audacity lebih lengkap. Dan yang paling penting, STABIL! Tidak sekalipun crash. Tugas menjahit adegan demi adegan pun berjalan lancar dan menyenangkan.

Namun, memang tak ada gading yang tak retak..

Kekurangan Audacity dibandingkan Nero SoundTrax adalah pada saat menyimpan (bukan meng-ekspor). Saat menyimpan, Audacity membuat copy dari file-file audio yang digunakan kemudian disimpan sebagai file dengan ekstensi .au. Misalnya kita memiliki 10 track, maka Audacity akan meng-generate 10 file yang merupakan salinan dari track tersebut. Nero SoundTrax tidak melakukan penggandaan semacam ini. Dia hanya meng-generate 1 file miliknya sendiri, sedangkan untuk track nya tetap mengacu kepada file aslinya.

Bayangkan jika seandainya 10 track tersebut berasal dari sebuah file dengan ukuran total sebesar 500 MB (1 dialog rata-rata berukuran 50 MB – wav), maka Audacity akan membuat copy dari file tersebut sehingga kita membutuhkan ruang tambahan sebesar 500 MB. Ruang ini akan terus bertambah jika kita menambahkan track. Bagi yang hanya memiliki ruang kosong sedikit, hal ini bisa jadi mengganggu.

Kesimpulannya, secara keseluruhan, menurut saya Audacity lebih unggul dibandingkan Nero SoundTrax. Selain kestabilan dan fungsi-fungsinya yang juga sangat lengkap serta akses ke fitur-fitur yang jauh lebih cepat, Audacity juga bisa diunduh dengan gratis. Untuk keperluan pribadi maupun komersial. Ini tentu sangat menarik bagi semua orang.

Selamat mencoba!


6 Tanggapan ke “Mencampur suara a la studio rekaman profesional dengan Audacity, asyik!”


  1. Agustus 18, 2008 pukul 7:48 am

    saya sudah sering menggunakan audacity, pernah merekam penuh satu kaset, cuma untuk memisahkan masing-masing lagu masih bingung. gimana ngatasin ini
    makasih dan salam kenal sebelumnya

  2. 2 lukas WS
    Oktober 28, 2008 pukul 7:34 am

    saya adalah seorang guru yang sedang mencari kaset dongeng untuk dijadikan bahan pembelajaran sastra dikelas. saya sudah mndatangi toko2kaset untuk mencari kaset dongen namun tidak menemukan.
    bisakah saya mohon bantuannya untuk memperoleh kaset atau rekaman dongeng (audio)
    terimakasih dan salam kenal sebelumnya.

  3. 3 AhSya
    November 6, 2008 pukul 6:12 am

    #sukolaras
    Dipotong lagu-per-lagu dengan Audacity juga :)

    #lukas ws
    Kaset dongeng yang seperti apa? Seperti Sanggar Cerita dulu kah?

  4. 4 Lalu Ari
    Juni 16, 2009 pukul 9:28 am

    Aku lg nyari klip suara truk, ayam jago, mobil, jantung berdetak, dsb. Ada yg tau gak web yg menyediakan itu… Tolong ya kasi tau akau kalo emang ada, aku butuh untuk pementasan anak-anak sekolahan. Thanks bgt ya udah niat baca & bantuin aku…


Tinggalkan Balasan